Tuesday, December 02, 2008
::Penyendiri::
Ini adalah proses sejarah, yang terangkai secara acak sehingga membentukku menjadi seperti sekarang. Salah satu hasil bentukan itu, Pie, aku sepertinya selalu berjarak dengan siapapun.
Dan, pada konteks ini, hingga hari ini, aku masih tak bisa sepenuhnya membayangkan --seperti istilah yang dipakai Marques—dia yang mau menundukkan dirinya dan aku juga menyediakan diriku sepenuhnya untuk bersama selamanya.
Dan salah satu Garis itu, membentang dalam arus: aku menjadi orang yang tak bisa langsung bereaksi atas sebuah peristiwa sehingga menyadari bahwa semua telah berlalu. Kesadaran yang meski terlambat ini ternyata begitu dalam merasuk karena konteksnya begitu lekat kuingat, sehingga menjadi lama karenanya.
Titik ekstrim ketaknormalan itu, membuat lagu Dewa yang dulu pernah kami nyanyikan bertujuh waktu di Anyer dulu, sepertinya masih akan tetap tersenandungkan, hingga setidaknya akhir tahun ini.
Bukannya tak berusaha untuk mengatasinya, Pie, tetapi selalu saja, ada yang tak pas karenanya. Di awal tahun, misalnya, ada dua orang sekaligus yang aku merasa dekat, dan kepadanya aku bisa bercerita apa saja. Tetapi, pelan tapi pasti, duanya menjauh dari peredaran. Satu karena ia memang tak mungkin digapai dan satu karena kita sama-sama menyadari akan resiko kita.
Dilema untuk kasus yang kedua, telah kita bicarakan semuanya sampai habis, tetapi begitulah, kita menjadi begitu terbuka justru di saat semua sudah tak mungkin. Aku kira, ia sungguh menyesal karenanya, meski aku mencoba untuk menahan ia tak membuta. Syukurlah, kita melakukan sebagaimana seharusnya, untuk sama-sama saling menjaga. Sehingga, hingga kini, kita pun menjadi karib.
Malah sempat, di pertengahan tiba-tiba hadir seseorang yang mendekati kesempurnaan akan cita masa laluku. Smart, kukuh memegang tali agama dan tidak macam-macam pintanya. Cuma, aku tak tega untuk mendesaknya karena ia telah memiliki kesepakatan dengan anak sekelasnya. Bagiku, aku lebih baik menjauh dibandingkan harus menghilangkan separuh kebahagiaannya.
Dalam perjalanan itu, satu lagi hadir. Dihadirkan tepatnya. Ia yang teramat susah didekati itu, yang telah lebih dari satu musim rambutan aku menaruh harap atasnya, dalam ketak yakinan, acap saling sahut, tetapi aku sih masih merasa, kita begitu sama dalam semua, kecuali dalam cinta.
::Dua Kutub::
Membaca apa yang kamu tulis, juga mencoba menafsiri narasi yang hendak kamu bangun, saya pun harus menjawab tulisanmu itu.
Setelah mencoba dekat dulu, saya juga mencoba mencari tahu sosokmu, dari situ, saya menangkap sebuah kekhawatiran untuk terus mengiyakan apa yang kau pinta. saya sendiri memiliki kesimpulan, kita terlalu tergesa melangkah.
Sejak awal, saya sebenarnya memfilter untuk tak segera larut, meski di perjalanan saya goyah. Saya mengiyakan saja inginmu sebagai upaya mencoba. Juga supaya engkau tak bertambah sakit. Tapi, ternyata itu salah. Salah besar.
Karena, itu adalah pembodohan dan justru akan membuat kamu semakin sakit.
Padahal, kita seperti dua kutub arus yang berlawanan, kamu dan lingkunganmu telah menjatuhkanmu dalam psikologi abstrak dan begitu saja tenggelam dalam imaginasi itu. Dan saya, seperti menemukan pembenaran atas kesalahan pengiyaan.
Maka dalam ketergesaan itu, inginku memperbaikinya setidaknya mengamputasi supaya tidak semakin parah di kemudian hari, tetapi ini telah menjadi adzab yang memedihkan, rupanya.
Saya sempatkan berdiskusi dengan beberapa temen untuk menegaskan, bahwa saya salah, dan ini hanya salah satu cara untuk mengamputasi kesalahan-kesalahan yang akan datang berikutnya, Tetapi tampaknya benar-benar terlambat. Karena kamu menjadi menderu karena penolakan itu, dan saya menjadi semakin resisten karenanya. Kutub menjadi semakin ekstrim, karena sikap dan cara yang masing-masing kita munculkan.
Tentunya, aku salah karenanya. Maka, aku pun mencoba memperbaiki kesalahan itu, dengan mengatakan semua apa yang ada dalam alam fikir dan perasaanku, meski resikonya seperti yang kau tulis itu.
Dan, suatu ketika, ketika engkau tiba di sini, dan mencoba untuk bertatap muka, aku memilih untuk mengabaikannya. Aku khawatir, ini tidak akan selesai dalam hanya satu kali tatap muka saja.
Dus, horizonmu akanku telah membuat stereotipmu akanku melekat. Sekadar untuk tahu saja, bahwa alam di sini, I’, memang butuh waktu untuk memahaminya. Keinginan untuk bertemu di satu sisi, menunjukkan bahwa harapmu akan ku belum berakhir. Itu juga menunjukkan bahwa penasaranmu belum habis.
Maka, ketika agenda yang telah engkau susun, dengan nalar yang engkau miliki, menjadi berbenturan dengan agendaku, yang juga telah aku rangkai sendiri yang berakibat pada ketidakbertemuanmu denganku.
Lalu, kamu pun menganggap itu sebagai bagian dari kepengecutan.
Di titik inilah, sebenarnya, kedewasaan diuji. Ia, apakah hanya berlaku bagi orang lain yang bercerita tentang persoalannya dan kita memberikan solusi atasnya, tetapi juga, akankah segala saran itu juga bisa berlaku untuk diri kita ketika kita tertimpa persoalan? Terlalu banyak orang yang begitu pintar memberi masukan, tetapi ia gagal mengobati diri sendiri.
Mungkin, ini salah satu cara yang mungkin harus engkau dimiliki --menyitir James Turner Johnsons-- bagaimana berfikir terbalik dari pihak yang berbeda, sehingga kita bisa menyelami apa yang sedang mereka pikirkan. Memikirkan apa yang orang lain lakukan seandainya kita berada di posisinya, meski, bisa jadi, ini juga tak sepenuhnya betul.
Maka, dengan contoh kecil saja, soal tempat. Hanya karena sama-sama di Jakarta Selatan, dan mengandaikan Lenteng Agung dengan Kebun Sirih adalah jarak yang dekat, selain merupakan bentuk ketidaktahuan yang dipaksakan, juga menunjukkan adanya semangat yang berlebihan untuk lebih sekadar bertemu dengan seorang sahabat.
Dan, ketika keinginan tak tersampaikan, nuansa untuk menyerang begitu kuat. Lantas, apa salah, jika saya mengacuhkannya? Dan jawaban berbusa-busa yang aku berikan dengan segenap pengetahuan yang kumiliki, juga tak bakalan melegakanmu.
Tuesday, September 02, 2008
Belajar Spradley di Jatimulya
Yang penting tulis, tulis, tulis. Suatu saat pasti berguna.”
Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1, Lentera Dipantara, Jakarta, 2004
Tiba-tiba, saya jadi merasa begitu kecil setelah membaca tulisan James P. Spradley soal etnografi. Semula, saya membayangkan bahwa, dengan membuka mata, memasang telinga dan berkeliling di kompleks perumahan Jati Mulya serta melakukan wawancara, akan mendapatkan temuan seperti para peneliti lainnya. Tetapi, ternyata, setelah saya membaca tulisan Spradley itu, betapa masih banyak hal yang harus dilakukan selain tiga hal di atas.
Karena, demikian Spradley, etnografi harus bisa memahami kandungan dari kode-kode bahasa yang disampaikan, bisa menafsiri dari perilaku bahkan hanya dengan menunjukkan gesture tertentu pun, bisa memahami maksud yang ingin diungkap. Memahami semua itu, tentu hanya bisa didapat jika kita intens dengan komunitas dan terutama, immerse. Sementara, apa yang saya lakukan selama ini, masih terlalu jauh dari apa yang disebut dengan metode etnografi a la Spreadly ini.
Tetapi, meski saya tak seketat apa yang diancangkan Spradley, saya mencoba untuk setidaknya, menggunakan apa yang pernah disarankan Pram, “Tulis, tulis, tulis. Suatu saat pasti berguna.” Saya pun juga mencoba, sebisa mungkin menangkap semua dari apa yang saya lihat dan dengar. Saya juga mencoba mendekat dengan, ikut berjamaah, misalnya, saat waktu shalat tiba. Dan hal lalin, kalau memungkinkan, saya akan melakukan wawancara. Bahkan, seusai sesi wawancara, saya meminta waktu lagi untuk wawancara lagi serta meminta rekomendasi, kemana dan kepada siapa lagi saya bisa melakukan wawancara lanjutan.
Jarak Jati Mulya, dari kantor saya di Depok membutuhkan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam sekali jalan. Dari Depok sendiri, saya harus berganti empat kali moda angkutan serta untuk sampai ke Jati Mulya.
Saya, masuk ke Jati Mulya pertama kali untuk melakukan wawancara guna memverifikasi dari apa yang saya temukan dari dunia maya atas penutupan gereja di Jati Mulya, kecamatan Tambun Selatan kabupaten Bekasi sebagai bagian dari pemantauan atas kasus-kasus diskriminasi dan intoleransi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Jawa Barat.
Dari sanalah kemudian, saya merasa apa yang terjadi di Jati Mulya menarik untuk ditelisik. Karena, dalam amatan saya, apa yang terjadi di Jati Mulya, tampaknya mewakili tipikal beberapa penutupan gereja di tempat lain, terutama di Bekasi yang setidaknya, memiliki kesamaan dalam hal, adanya beberapa gereja dalam satu kawasan yang kemudian ditutup oleh warga.
Berbeda dengan kedatangan saya sebelumnya, yang memang khusus wawancara dengan Pendeta Pestarya Br. Hutajulu, Pendeta Gekindo Getsemane, salah satu dari tiga gereja yang ditutup di Jati Mulya, untuk penelitian ini, saat datang ke Jati Mulya, saya sengaja turun di Jalan Melati Raya, jalan ke arah Gereja Gekindo Getsemane dan Gereja HKBP Getsemane berada.
Saya sengaja berhenti tepat di jalan masuk yang gapuranya tergantung nama sekolah Thariq bin Ziyad, sekolah Islam bergengsi yang pemiliknya adalah Bupati Bekasi, Sa’duddin. Sekolah ini, persis membelakangi dua gereja, Gekindo dan HKBP Getsemane. Saya berjalan untuk mengukur jarak, seberapa jauh antara pertigaan Jalan Raya Jati Mulya dengan jalan Melati Ujung, tempat dua gereja berada.
Mendekati gereja, persis di depan sekolah at Thariq, saya berhenti. Saya memang tidak ingin masuk ke gereja karena, gereja sendiri sudah dua tahun tak terpakai. Dan saat saya ke sana beberapa waktu sebelumnya, kondisi bangunan rusak berat. Pintu, kaca nako dan kabel-kabel listrik lenyap. Sebagian atapnya juga terbuka, karena dibongkar oleh trantib pertengahan Juni lalu.
Secara kebetulan, saat berada di pertigaan itu, saya mendengar adzan dari masjid al-Muttaqin yang berada di depan at thariq. Saya pun kemudian menuju masjid al Muttaqin. Masjid al Muttaqin sendiri, bukan lah Masjid besar. Ia pun kalah gagah dengan masjid at Thariq yang menaranya saja tampak menjulang.
Masjid al Muttaqin, hampir seperti rumah biasa, bentuknya memanjang. Saat saya masuk masjid, terasnya terlihat tak terlalu bersih. Kamar kecilnya juga terkunci, dan hanya tempat wudlu saja yang dibuka.
Di dalam masjid al Muttaqin, di sebelah kiri, terdapat papan pengumuman. Tertempel di situ, tulisan-tulisan soal Front Pembela Islam (FPI). Ada tiga tulisan yang tampak di sana. Pertama soal klarifikasi FPI atas tiadanya izin dari negara atas lembaganya. Di situ juga dituliskan soal kenapa FPI tidak memiliki badan hukum, bahwa, demikian isi tulisan, ketiadaan izin bukan karena FPI tidak berniat memiliki badan hukum. Tetapi, sikap-sikap FPI yang tak mau kompromi dan juga karena berazas Islam yang membuat, FPI susah, dihalangi, bahkan difitnah sehingga tidak bisa memiliki izin. Di situ juga disebutkan soal donasi, jika ingin mendonasikan ke nomor rekening yang tertulis di bawahnya. Yang kedua, soal penggerebekan FPI terhadap warung remang-remang di kawasan Tambun Selatan.
Masjid al Muttaqin juga memiliki perpustakaan. Tempatnya di pojok sebelah kiri. Bukunya tidak terlalu banyak. Sekitar 20-an buku selain al-Qur’an, beberapa buku, serta majalah Suara Muhammadiyah di sana. Setelah itu, saya berjalan keliling di kompleks perumahan itu.
Sore harinya, saya mampir ke rumah Pendeta Pestarya Hutajulu. Sayang, pendeta sedang tak di rumah karena mendadak ada acara di Jakarta. Untunglah saya bisa berbincang dengan Ibu Yeti, adik pendeta yang aktiv di lembaga al Kitab, dan selalu mengawal Pendeta Hutajulu saat melakukan kebaktian di jalan selama delapan minggu akibat gereja ditutup dan disegel tahun 2005 lalu.
Ibu Yeti banyak bercerita, terutama soal peristiwa kebaktian di jalan. Terkadang, ia agak tersendat saat menceritakan penutupan itu. Bahkan suatu ketika, ia berkata, “Terus terang, kalau kita lewat Melati Ujung itu, sedih. Itu kita membeli bata satu-satu. Sampai anak-anak sekolah minggu itu nabung, satu keluarga, itu satu sak semen untuk membangun. Tetapi Tuhan punya rencana. Dan yang paling sakit, janji pemerintah itu tidak pernah ditepati, padahal itu tertulis.”
Dari dia pula, saya mendengar, bagaimana para mubalig di masjid-masjid di kompleks Jati Mulya berceramah. Ia berkata, ada beberapa masjid yang saat ceramah terdengar keras dan membawa-bawa dari luar negeri ke ke sini. Tetapi, dari apa yang ia tangkap, di masjid at Taubah, yang berada di belakang rumah tinggalnya, hampir ia tak mendengar suara keras.
Pada kedatangan berikutnya, saat hari Jum’at saya ke Jati Mulya. Mulanya, saya ingin jum’atan di masjid al-Muttaqin, di tempat yang sebelumnya, saya melihat selebaran-selebaran FPI dan majalah suara Muhammadiyah di dalam masjid itu. Saya ingin mendengar khotbah di al Muttaqin. Siapa tahu, ada inspirasi yang bisa diambil sekaligus mengamati berapa banyak jemaah dan mengenali beberapa orang yang bisa diajak ‘ngobrol’ di sana. Tetapi, hasrat hati berbanding dengan hasrat arus bawah. Khawatir tak terbuka kamar kecilnya, saya memilih pergi ke masjid at Taubah.
Tetapi, tak salah juga sebetulnya saya jum’atan di masjid al Taubah, karena saya bisa menangkap gerak kultural masjid yang memiliki tradisi seperti lazimnya orang-orang NU. Seperti adzan, misalnya, di masjid al Taubah, dua kali adzan saat jum’atan. Seusai shalat, jamaah juga wiridan dan salaman bersama, sehingga mirip dengan kebiasaan di kampung saya.
Setelah makan siang, saya kembali ke masjid at Taubah. Pasalnya, untuk kedatangan kali ini, saya belum mengadakan perjanjian dengan siapapun. Saya melihat seseorang yang lagi membaca Yasin yang di sampul depannya, bertuliskan hadiah dari keluarga orang yang meninggal. Saya pun mendekat. Menyapa dan mulai bertanya. Saya juga sedikit mengutarakan keinginan saya ke tempat itu.
Syukurlah, saya mendapatkan jawaban sebagaimana bayangan saya. Meski ia tak mau saya membuka rekaman, ia yang bernama Ibrahim (64) itu, berasal dari Manado. Ia memiliki pandangan yang, dalam pandangan saya moderat. Ia memakai celana pendek di atas lutut, berkopiah hitam dengan garis-garis renda hijau.
Saat saya tanya tentang penutupan gereja, ia menyayangkan penutupan itu. Ia berkata, bahwa orang boleh saja berbeda, dan terutama, tidak mengganggu. Ia juga memposisikan diri berbeda dengan orang yang ia sebut kelompok fanatik. “Nggak apa-apa orang berbeda. Kenapa harus ditutup? Mungkin karena iri, sehingga ditutup, atau kemasukan orang luar,” katanya. Ia juga sempat bercerita bagaimana kondisi keberagamaan di Manado. Di hari Jumat, misalnya, saat beribadah, di jaga oleh ‘orang lain’. Begitu juga kalau di hari Minggu, saat mereka beribadah, juga gantian dijaga.
Di hari yang lain, saat saya mendapat rekomendasi untuk melakukan wawancara dengan tetangga gereja. Saya melakukan wawancara dengan Pak Syamsul. Pria kelahiran Cirebon 48 tahun silam itu, pernah menjadi santri di pesantren Kempek, Babakan, Ciwaringin Cirebon dan Lirboyo Kediri.
Ia, menunjukkan bahwa ia pengagum Gus Dur. Meski, dalam wawancara itu, ia juga acap bertanya soal isu, dari apa yang ia dengar dari orang-orang, bahwa di kampung itu tidak ada orang Kristen. Meski ada satu atau dua, kenapa justru beribadahnya tidak di Jati Mulya, tetapi di luar. Sehingga, mungkin, kenapa gereja ditutup. Sedikit banyak, pertanyaan Pak Syamsul memang menyangkut soal denominasi. Ini memang bagian yang juga ingin saya dalami serta masalah-masalah lain. Saya juga belum menemui orang-orang yang berperan aktif atas penutupan gereja, sebagaimana muncul di media seperti Ustadz Mukhlas Fauzi. Atau, ketua RT 18, Pak Sholihin. Saya juga belum menemui Pak Jamun, pejabat sementara lurah Jati Mulya. Dan tentu saja, menemui yang lain lagi, atau wawancara ulang, dengan yang sudah saya dapat dan datangi sebelumnya.
Ditulis sebagai bagian dari aktivitas Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008 dan dipublish di www.interseksi.org
Wednesday, June 18, 2008
Satu Ulah Saja
Sebuah kemewahan sebetulnya bisa di luar kantor dalam waktu lebih dari tujuh hari tanpa cuti. Maka, hampir meluap rasanya, saat aku keluar dari jalan Pemuda 35. Memang, tak hanya satu undangan saja yang harus dihadiri. Sekian deret absensi juga telah menunggu untuk diparafi termasuk inisiasi seorang karib yang berubah status yang sangat berharap untuk disambangi.
Aku melalui semua itu dengan ringan. Karena, akar dari semua gerak ini adalah kamu.
Meski dengan harap-harap cemas saat semua travel dan bus yang dikontak bilang penuh, juga seorang OB yang datang dengan tangan hampa saat ticket kereta telah ludes, membuatku tak surut langkah untuk melanjutkan perjalanan malam itu juga. Pun pula, aku telah bersiap seandainya kehabisan ticket duduk dan berdiri di antara gerbong atau dengan menggelar koran di pinggir pintu di samping sambungan kereta.
Aku pun tetap menikmatinya karena angan yang bakal menjelma sosok wujudmu
Tetapi, semua gerak itu seperti terhenti saat kesempatan itu datang, aku justru tak bisa memenuhinya karena jam biologis tak mau dikompromi dan tak bisa dibohongi. Ia terhalang oleh sebuah ulah bernama lelap.
Salah siapa? Harus kah aku mengutuki diri? Penyesalan tiada tara hanya akan melahirkan tindakan kalap. Mencoba menguasai diri dan menekan ego untuk tidak terlalu menyalahkan diri tentu lebih baik. Sahdan, sesal itu bergerak meredup meski tak hilang. Setidaknya, ia telah beralih menjadi goresan di sini.
Ia juga mungkin pertanda, bahwa harapan tak selalu harus menjadi kenyataan. Atau mungkin ini adalah penggenapan ketidakmujuranku sebelumnya. Umpama, meninggalkan kesempatan untuk beramah-tamah dengan keluarganya karena alasan laporan, ketidakkonsistenan berkomunikasi yang mengurangi keyakinannya akanku, kejujuran alur penulisan yang justru mereduksi imaginasinya, kebanggaan atas politik narasi yang justru menjerumuskan diri, ketakutan atas segala sangka duga, setumpuk ketidakpercayaan diri, dan setumpuk ‘tak’ lainnya. Wajar jika kemudian, ia pun tak yakin akan sungguhku. Atau, malah tak sekadar itu, ia sudah membalik arah.
Penggenapan ketakberuntungan juga masih sempat menghampiri kala Travel yang ditumpangi lampunya mati, hingga harus menunggu di bawah gerimis di sebelah pom bensin. Hampir seluruh isi penumpangnya menggerutu.Tetapi, aku justru keluar dari mobil itu dengan senyum. Aku ingin menggenapi sisa ketakberuntungan ini dengan terpaan gerimis. Ia seperti menuntunku untuk melihat sisi lain. Tempat yang harusnya aku tak akrab itu, tampak begitu ritmis. Manusia, memang diajarkan kehidupan untuk mengambil sisi positif dari sebuah peristiwa yang terkelam sekalipun.
Sia-sia...
Kita, sepertinya memiliki psikis yang sama. Kala dekat menjadi tertutup, dan ketika sudah pasti tak mungkin bersama menjadi begitu terbuka. Itu lah yang mungkin susah menyatukan kita. Meski kemudian, kita menyesal tiada terkira, meski ini tentu tidak akan mengubah keadaan.
Memang, dunia tidak dibentuk dengan cara itu. Ia berjalan di atas ketidaksempurnaan dan penderitaan. Tampaknya dengan cara itu lah dunia menjadi seperti sekarang ini. Dan tentu saja, bagi kita, teramat susah menebak alur dunia.
Sementara, persis dengan sifat dunia adalah hati. Ia juga acap teramat susah difahami. Maka, meski kita sudah bahas semuanya tanpa sisa, selalu saja ada yang kurang. Bahwa kesadaran akan keberbedaan serta banyaknya jalan berliku ternyata tak membuat hati menjadi ikhlas. Ia malah mengekalkan luka menjadi cacat.
Aku sendiri, meski sudah meneguhkan hati dan meyakinkan diri bahwa bukan engkaulah muara hati, tangis pagi harimu seusai ritus adalah pedihku. Antara kesetengahsadaran dan keheningan itu, cekatku memuncak. Dan rasanya, politik narasi dan muskil representasi yang mencoba aku yakini, menjadi sia-sia.
Tetapi, setidaknya, kekhawatiranku menjadi bukti, menggenapkan ritus peralihan dengan disaksikan oleh semua orang yang bagimu kesempurnaan adalah kesalahan. Dan, ketidakhadiranku setidaknya, mengurangi kecelakaan ritus itu. Meski dulu, aku ingin memungkasi tulisan dengan begini: Ini soal politik, politik narasi. Atau, politik kutipan, kata GM. “Mana yang hendak dikutip dan mana yang tidak dikutip.”
Prosesi itu…
Pelan-pelan, aku lakukan ritual itu. Sebuah prosesi yang sepertinya aneh, tetapi aku harus melakukannya. Mungkin engkau tertawa, nak. Tetapi, begitulah. Aku selalu merasa berada dikultur in between seperti sekarang ini.
Aku buka kitab suci satu-satunya di tempat itu. Degup berdetak cepat. Ini seperti pertaruhan. Kalau bertanda baik, aku lanjutkan. Kalau tidak, aku harus berhenti di sini.
Aku buka halaman tengah. Eit, waktu di halaman yang aku buka, aku mulai ragu. Lembar itu belum terpotong sejak terbeli. Artinya, bagian itu belum pernah dibaca orang sama sekali. Aku terhenyak. Apakah aku harus lanjutkan atau berhenti? Haruskah ku hitung yang terpotong itu atau tidak? Akhirnya, aku putuskan untuk menghitung lembar yang belum terpotong sesuai jumlah halaman.
Dan inilah hasilnya: Sebuah janji dari Yang Maha Bijak yang akan menghilangkan godaan atas keinginan yang dimasukkan syetan di dalamnya kepada setiap utusan.
Ini seperti pertanda atas kebiasaanku yang tidak pernah bisa menentukan hitam-putih atas sebuah persoalan. Aku, ternyata masih diberi jalan oleh Yang di Atas untuk berfikir lagi. Sungguh tidak mudah. Karena aku kemudian mencari konteks surat itu turun.
Surat itu sendiri, bagi sebagian mufassir bersilang pendapat, apakah Makkiyah, atau Madaniyah. Ia, sebagaimana dipetik dari halaqah.net, termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan tidak musafir, ada ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang di Madinah. Isinya, ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang mengait perdamaian, ayatnya ada yang muhkam dan ada pula yang mutasyabih. Genap sudah, tengah-tengah ini.
Dan kau tahu nak, sebagaimana aku cerita dulu, akhirnya aku menjalani prosesi itu. Meski akhir-akhir ini, aku seperti menemukan jawabnya. Ia menghilang...
Takut…
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, P.A.T
Harusnya aku sudah merengkuh separuhnya sebagaimana kata Pram. Toh aku sudah mengawali sebagaimana kata hati. Aku juga sudah mencoba seperti yang dipesan Mas Prie GS saat achievement motivation training dulu, “Jujur pada diri sendiri dan tulus pada orang lain.” Meski juga sadar, kejujuran ini akan merubah pola dan struktur-kultur jalinan yang selama ini terbentuk.
Tetapi, tetap saja, aku takut. Takut sekali. Bukan soal awal, memang. Tetapi menjejaki tapak berikutnya. Apalagi, aku hampir tidak pernah punya cerita soal ini.
Entahlah, kenapa aku begitu mengingininya. Pernah, di sebuah warung favorit, saat seorang kawan bertanya, apa yang membuatku begitu mencintainya? “Kulluh,” jawabku.
Saat karib yang lain, yang tak lama lagi beralih status bertanya, apa yang kau inginkan darinya, aku jawab begini: “Hanya satu keinginanku, ia bahagia.” Masih tak berhenti di situ. Dia mengejarku dengan pertanyaan, “Kalau misalnya kebahagiaannya adalah jauh darimu? “Ya bagaimana lagi. Masak aku tega dan bisa bahagia di atas penderitaannya.”
Ia memang bukan Aisya, tokoh rekaan Kang Abik di Ayat-Ayat Cinta itu. Tapi, untaian puisi ini, persis seperti yang ku rasa: Bidadariku, namamu tak terukir dalam catatan harianku. Asal usulmu tak hadir dalam diskusi kehidupanku. Wajah wujudmu tak terlukis dalam sketsa mimpi-mimpiku. Indah suaramu tak terekam dalam pita batinku. Namun, kau hidup mengaliri pori-pori cinta dan semangatku. Sebab, kau adalah hadiah agung dari Tuhan untukku, bidadariku
Wednesday, May 07, 2008
Tak Khusuk Lagi...
Aku pun mulai untuk tidak lagi mempraktekkan cara itu. Aku hanya mencoba menjadikan ini bagian dari ‘pendampingan’. Syukur-syukur bisa memberi dorongan, menyuntikkan semangat, menumbuhkan optimisme, supaya yang luruh bisa tegak, yang rapuh menjadi kuat. Aku pun mencoba menjadi pendengar yang baik, mencoba ikut mengurai masalah, tanpa berusaha untuk menuliskannya untuk kesenanganku.
Tetapi, model begitu sepertinya tak membawa hasil. Kebosanan acap melanda terutama saat pengulangan cerita di bagian yang persis sama, sementara, kemarin-kemarin aku seperti berbusa memberi saran, tetapi sepertinya masih saja, masalah yang sama disuarakan lagi. Aku acap berfikir, apa masukan itu tidak berpengaruh ya? Aku pun mulai mengevaluasi diri. Jangan-jangan memang tidak memberi impact apa-apa.
Maka, aku pun memutuskan tak lagi mendengar cerita-cerita itu. Atau kalau terpaksa, aku menyerang balik setiap cerita-cerita. “Balikin cowok gue,” kata teteh satu itu suatu ketika. Aku menjawab balik, “Heh, kamu salah orang.Aku tak membawa cowok itu, kok teh.” Garing. Tetapi lumayan efektiv untuk meredam tangis yang meledak itu. “Eh, boleh tanya,” aku mulai membelokkan alur, “Emang menangis bisa menyelesaikan masalah ya?” tak dijawab pertanyaan ini. “Sudah, cari yang lain saja...”
Ini cerita dari yang lain lagi. Sewaktu kawan yang bercerita tentang email-email yang mau ia bacakan semua, aku menyetop duluan, “Bisa nggak, inti dari sembilan emailnya itu?” tetapi, perempuan itu terus membaca yang membuatku mulai mengabaikan suaranya, membuka winamp, asyik memilih-milih lagu. Dan pencet play. Nggak keras memang, suara ia membaca pun masih kedengaran. Tanpa sadar, aku mulai menirukan suara Fadly. Tampaknya, dia marah. Ia pun menghentikan suaranya. Aku? Abai saja.
Cukup? Tampaknya belum. Masih ada satu lagi yang lebih jahat. Seseorang yang aku abaikan semua email, telponnya dan sms. Kecuali satu SMS, yang disitu aku jawab “Aku lagi pengen egois.”
Sepertinya, bukan kebiasaanku begitu, tetapi, saat-saat ini, tampaknya, aku sedang tidak respect dengan semua cerita-cerita. Lantas, puaskah aku dengan begitu? ternyata tidak juga. Karena ternyata cerita itu ikut membantuku menjadi kuat. Bahwa tak hanya aku, tetapi juga dia, atau mereka yang cerita. Tetapi, untuk saat ini, mendengar cerita derita dari orang-orang itu rasanya masih nggak bisa. Karena, sekali lagi, repetisi membuatku tak khusuk lagi.
Monday, February 04, 2008
Nalar Merah Jambu
Sampai kemarin, ia datang lagi. Lebih pendiam, tetapi kedewasaannya jauh lebih kelihatan. Dan ya, keahlian meramalnya, belum pupus. Meski kini dengan alat yang berbeda. Dulu dengan kartu, sekarang pake garis tangan. “Bukan orang Banyuwangi kalau tidak bisa meramal,” katanya.
Lalu, diusapnya gurat-gurat yang menggaris membentuk garis angka 81 di tanganku. Lantas, ia berujar:
“Kamu itu orangnya telaten.”
“Yups. Terus?”
“Kamu kalau lagi penasaran dengan sesuatu akan ditelateni sampai berhasil.”
“Kayaknya iya. Trus?”
“Ulet”
“Hm... then?”
“Kamu, meski tidak banyak pendapatannya, tapi berkah.”
“Itu harapanku,” Aku menambahkan, “Banyak, kalo ga berkah, malah sia-sia kan? Terus?”
“Kamu itu orangnya tidak tegaan.”
Aku tidak menanggapi dengan kata soal ini. Aku bertanya lagi, “Terus, kalo cewek?”
“Nah… ini. Kamu itu terlalu rasional.” Aku meringis. Telak sekali komentar ini.
Dan begitulah, sepertinya, rasionalitas dengan realitas seperti segendang sepenarian. Padahal, jam biologis terus berdetak, yang terus-terusan mengingatkanku untuk segera melangkah. Apalagi, kanon pertanyaan-pertanyaan yang acap dilontarkan oleh kakak-kakak, memintaku untuk membawa tulang rusuk yang berserak.
Dan, bisa sedekat ini denganmu adalah sebuah keajaiban. Kalau sampai bisa mengarungi biduk bersama, tentu ini keajaiban terindah yang pernah kumiliki. Kok mirip dengan yang ditulis oleh Gunawan Muhammad dalam refleksi yang dia tera di Catatan Pinggir akhir tahun kemarin ya? Bahwa hidup, bukanlah melulu kausalitas. Ada keajaiban-keajaiban yang tak terkirakan oleh manusia di dalamnya.
Meski tidak beruntungnya, bibit yang mulai bersemi itu, engkau pangkas kembali. Dalam skeptitisme, dalam ketidakpastian dan keombang-ambingan antara masa lalu dan harapan yang lebih akan masa depan, engkau seperti menyesal membukakan pintumu untukku. Kalau kemudian engkau bertanya, apakah aku terluka? Kayaknya sudah tak kurasakan lagi syaraf di bagian itu.
Aku sepakat kau menghentikan semua ini. Karena aku juga khawatir, pilihan yang kau jatuhkan buru-buru diketukkan tanpa pengendapan. Kenyamanan sesaat yang, An sich karena sepi, senyampang sama-sama sendiri, yang jadinya malah menjadi hanya setengah hati. Nalar demokrasi merah jambuku tidak menegakan itu.
Bagiku, ini cuma sekali dalam hidup. Jangan sampai engkau keliru menentukan pilihan, lalu menyesal seumur-umur. Masih ada waktu untuk itu.
Monday, January 14, 2008
Satu Cela
Tak ada yang baru di bawah langit, sejarah acapkali berulang bahkan dalam bentuknya yang paling sederhana
Dikutip dari pengantar buku, 17 Oktober 1952
Ibu manakah yang rela anaknya hanya dijadikan istri kedua? Tetapi, tega kah ia berkata tidak, ketika sang anak meminta izin kepadanya untuk menjalani itu? Dan jawabnya, seperti kata ibu mertua Indayati, sebagaimana ditulis oleh Remy Silado di novel Mimi lan Mintuna itu, “Kami tidak bisa menahanmu, nduk. Kalaupun yang kamu lakukan ini salah, kamu tetap benar…” meski dengan konteks yang berbeda. Indayati pergi karena tak kuasa atas tangan besi suami, dan engkau, memilih menjadikannya suami, meski dia sudah tak sendiri.
Satu langkah yang benar adalah, engkau meminta izin ibu. Tetapi tiga langkah lainnya, setidaknya, aku kira salah. Yang pertama, kalian berdua sepakat untuk tak mencatatkan akad itu dalam lembar hitam di atas putih sebagaimana akad galibnya. Kedua, menafikan adanya keturunan yang, ini seperti menyalahi kodrat, menikah tapi menghalangi munculnya si buah hati. Dan ketiga, engkau atau dia, tidak meminta izin ke istri sebelumnya.
Sementara, aku sendiri, sebagaimana yang sudah-sudah, hanya mengiyakan tanpa bisa melarang sedikit saja. Memang, Aku hanya berpesan, hati-hati. Tetapi, pesan ini seperti sebuah persetujuan atas persekongkolan atas perilaku kalian. Bagiku, toh kamu sudah dewasa dan bisa memilah mana yang terbaik bagimu.
Even engkau dulu pernah cerita, betapa sakit rasanya, saat ibu di gelandang dari rumah kala bapak menikah lagi. Dan sekarang, engkau menjalani sendiri, meski dengan cara yang berbeda. Makanya, aku memberi lead tulisan ini dengan mengutip dari buku 17 Oktober 1952 itu.
Dan memang, sejarah seperti roda, berulang meski dengan putaran yang tak sama. Aku pun tak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibu saat engkau minta izinnya. Yang aku yakin, hatinya pasti meratap meski mengiyakan pilihanmu.
Oh iya, ini pun sebenarnya begitu engkau tutupi tak sebagaimana cerita-cerita yang kau tuturkan dulu. Celakanya, aku sendiri, akhir-akhir ini mulai acap tidak bisa mengontrol diri. Sehingga, brangkas yang harusnya tertutup itu, sesekali kubuka dan kucuri isinya. Meski hanya sekelumit, dan itupun dengan menghilangkan semua aktor, tuangan sedikit-sedikit ini, tetaplah sebuah cela. Tetapi, itulah masalahnya, ternyata, aku menikmati satu cela itu.
Ini memang konyol. Aku tidak tahu, seandainya aku tidak cerita satu rahasia, engkau mungkin juga tidak akan cerita satu itu. Tetapi begitu lah kita, memiliki kekonyolan-kekonyolan yang ternyata, sudah bukan wilayah imajinasi lagi. Kita, tanpa sadar sudah memasuki territory realitas yang berhubungan dengan khalayak. Yang tak kusangka adalah, peristiwa yang bagiku hanya ada di jauh sana, di balik kotak ajaib bernama televisi, kini terpampang persis di depan mata.
Eh, lepas dari semua itu, satu tanya boleh? Apa kira-kira jawaban ibu, seandainya ditanya oleh tetangga, “Mana anak menantu?”
Tuesday, January 01, 2008
Midnight in Marbella
Serang, dua hari sebelum pergantian tahun.
Menjelang pukul sepuluh, tujuh orang itu mulai duduk dan membentuk lingkaran. Botol aqua yang tidak terisi, ditaruh di tengah. Lalu, setelah semua membetulkan posisi duduknya, mulailah botol itu diputar. Setiap ujung yang mengarah ke salah satu dari dari peserta, maka, yang lain akan memberi satu pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Ini memang permainan kejujuran.
Maka, satu persatu, terkuaklah rahasia masing-masing kita. Hingga pukul satu, pintu-pintu rahasia hampir tak tersisa.
Entahlah, perasaan macam apa yang ada di hati enam orang lainnya. Aku sendiri, merasakan tubuhku menjadi panas sekali meski di luar hujan terus mengguyur sejak sore tadi.
Anyer, menuju pukul 00.00
pukul 19:51:20
“Lagi dimana mas?” suara yang begitu ku kenal itu lebih dahulu menyapa dibanding aku yang sejak sore menimbang-nimbang untuk sekadar SMS dia. Debarpun mulai berdentam-dentam menghantam. “Di Anyer,” aku membalas pendek sambil menjauh dari temen-temen yang sedang mengudap pecel Lamongan.
“Rame dunk?”
“Tentu,” aku menukas. “Ini lagi makan bareng-bareng sama anak-anak. Tadi sore liat sunset di Mercusuar.”
“Asyiknya. Nyesel, nyesel, aku ga ikut,” timpanya.
“Aku sich beruntung dirimu ga ikut, coba kalau ikut, rahasiaku ketahuan semua sama dirimuh. Ceritanya, semalem, anak-anak itu membuat permainan memutar botol, yang ujungnya mengarah kemana, dia ditanya oleh peserta yang lain. Sampai yang paling privasi sekalipun harus dijawab pertanyaan itu.”
“Nyesel, nyesel.”
Senyap sesaat.
“Mas, ntar malem telpon yah?” suaranya memanja. Eh iya, aku merasakan ada getar gemetar dari nada suaranya, semoga ga salah.
“Yoi. Makasih yah, telponnya,” aku menjawab.
Klik. Telpon ditutup. Senyumku melebar, debar.
Pukul 20:23:11
“Dimana sekarang, Mas?” sekarang, gemetar nada suaranya tampak begitu kentara. Yang menerima telpon tak kalah debarnya, seperti bersaing dengan ombak Anyer yang menggulung-gulung malam itu. “Lagi di bibir pantai. Eh, di situ sudah jam dua belas yah? Kok udah telpon?” aku menyentilnya.
“Iiiih...,” suara manjanya keluar.
“Ga pergi?” aku ganti tanya.
“Saudaraku ga bisa pergi-pergi dia harus prepare untuk ujiannya besok di Aussie.
“Kantiaaan dech.”
“Mas, ntar malem pokoknya telpon aku yah.”
“Iya, iya.”
Pukul 21:26:39 satu panggilan tak terjawab.
Pukul 21:52:11
“Ombak bergulung-gulung begitu hebat. Menyapu pasir-pasir di pinggir pantai. Menerobos hingga di bawah gubug-gubug. Langit tampak begitu gelap, sepertinya mendung begitu menggantung, gerimis pun mulai membasahi kepalaku.”
“Di situ udah jam dua belas ya?” dia membalas.
“Ya.” Aku menukas. “Maaf, aku tadi lagi jalan-jalan menyisir pantai, hp aku taruh di tas, jadi nggak tahu kalau dirimu ngebel.
Aku telpon itu juga antisipasi kalau nanti aku hilang, setidaknya dirimu tahu sehingga bisa mengabarkan posisi terakhirku dimana. Lagian, kalo aku hilang juga gak ada yang nangisi kok. Santai aja lagi.”
“Jangan gitu donk. Eh, mas, siapa nanti lebih cepet telpon, aku atau kamu.”
“Kita lihat saja. Tapi maaf saja kalau aku nanti mencuri start. Dua atau tidak menit sebelum jam 12. Jadi, maaf kalo nanti aku telpon duluan.” Padahal, usai telpon, aku men-set alarm di angka 23:59.
Pukul 22:40:42
Dia telpon lagi. Gemetar suaranya tampak begitu meluap. “Lagi gandengan sama siapa hayo?” dia tiba-tiba bertanya begitu.
“Nggak ada.”
“Bo’ong,” tampaknya dia sengaja menggoda kesendirianku.
“Selama sekian tahun, apa aku pernah bohong terhadap dirimu?” kataku.
Pukul 23:59:00
Diiringi deburan ombak, suara-suara terompet, bunga-bunga dari kembang api yang bertaburan dengan warna-warni, aku mulai menghitung mundur। Dari pantai Marbella, pesta kembali api begitu semarak dan susul-menyusul. Aku yakin, angka belum genap menunjuk 60 saat aku menelponnya. Aku berjalan ke tengah, berlari-lari melawan ombak, mendengar dengan penuh debar suara dari seberang sana yang mengucapkan segala macam pinta. Aku tidak bisa mendengar semua yang dia sampaikan. Debur ombak, suara terompet, plus yang paling menghilangkan konsentrasi, Gemuruh di dada membuatku hanya berkata, he-eh, iya, amin. Dan, saat tiba aku bicara, aku hanya menuturkan satu bagian dari permainan semalem, saat aku terarah ujung botol. Ada yang bertanya tentang dia, apakah aku mencintainya, aku jawab; iya. Rasa yang aku pendam sekian tahun, dan aku bertekad untuk terus memendamnya, dalam dua hari itu, membuka begitu saja. Bahkan aku menceritakan kepadanya, meski dengan memungkasi, “Cinta berbeda dengan memiliki bukan?”


